Posted by: Agung Prabowo | July 2, 2008

Cara-cara Fascist & Zionis Terus Dijalankan

Jakarta, 11 Desember 2000

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu’alaikum wr wbr.

CARA-CARA FASCIST & ZIONIS TERUS DIJALANKAN
Yusuf Jussac, Jr.
Jakarta – INDONESIA.

TEROR PSIKHOLOGIS MENJADI BAGIAN DARI STRATEGI PERJUANGAN

Masih segar di ingatan kita kasus Jawa Pos vs. Banser di Surabaya beberapa bulan yl. Sebelumnya, berkaitan dengan semakin kusutnya dan eskalasi konflik sara di Ambon – akibat “kebijakan” Presiden menyerahkan penyelesaiannya kepada masyarakat Ambon sendiri – Harian RAKYAT MERDEKA memuat karikatur RI-1 menggendong RI-2. Akibatnya koran khas yang berani tampil beda itu didemo (baca: DITEKAN!) gerombolan orang yang mengaku dari BANSER.

Sementara itu pada minggu ketiga September yl, menyikapi kerjasama PKB dan Partai Komunis Cina (PKC), Harian PIKIRAN RAKYAT di Bandung memuat karikatur PKC (digambarkan sebagai babi) merangkul PKB (digambarkan sebagai kelinci). Seperti sudah jadi S.O.P. di kalangan sebagian kawan kawan kita di kelompok Nahdliyyin, koran bernuansa Islam di Bandung itu kemudian dilurug 20-an anggota BANSER. Mereka menuntut permintaan maaf koran itu kepada pihak PKB. Bersumber di kalangan wartawan di Bandung minggu yl, seorang wartawan memberitahu ada di antara penggerudug yang kemudian “meminta” 11 ponsel kepada koran itu.

Tekan menekan, bahkan melancarkan teror psikhologis, nampaknya menjadi bagian dari strategi “perjuangan” sebagian dari mereka. Di era Orla ketika PKI berjaya dan mendominasi nyaris seluruh lini kehidupan bangsa – berkat Demokrasi Terpimpin Bung Karno – cara tidak etis itu lebih sering dilakukan PKI & orsospol onderbow-nya. Antara lain GERWANI, CGMI, dan Pemuda Rakyat.

Adalah CGMI yang mendesak Presiden Soekarno agar membubarkan HMI. Gara garanya, HMI UGM melakukan aksi walk-out dari acara di Kampus UGM, ketika Presiden Soekarno hendak menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada PM Uni Soviet Kruschev.

Pada tahun 1950-an, Jussac MR yang dikenal sebagai novelis di Yogya menulis sebuah roman cinta. GERWANI menggugatnya sebagai roman pornografi. Jussac digugat di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Pada proses persidangan selanjutnya, sparring partner Bang Buyung Nasution di SMPN I Yogyakarta itu berhasil mematahkan gugatan GERWANI di Yogyakarta.

Ketika pada era “dualisme” 1966/67 Jussac MR mendirikan koran pertama berformat tabloid di Indonesia, Harian PELOPOR YOGYA, dan ngobok obok BARISAN SOEKARNO yang disusupi orang orang PNI unsur kiri [Ir. Surachman, PKI yang disusupkan ke PNI-FM dan menjadi Sekjen PNI-FM, pada Kongres PNI-FM di Cirebon tahun 1957, ia mengganti ideologi Marhenisme dengan “Marxisme yang diterapkan dengan situasi & kondisi di Indonesia”] – Jussac MR yang di Australia [1959-1963] disebut “Soekarno kecil” itu juga diteror Gerakan Pemuda Marhenis/GPM faksi Soekarnois. Dan-Dim Yogya, yang ternyata PKI, bahkan merencanakan membunuhnya!

Radio Pancasila, yang didirikannya di Kota Baru Yogya juga jadi sasaran pelemparan batu GPM Soekarnois. Hastin Atasasih, salah satu penyiarnya kini penyiar RRI Pusat, tentu ingat episode itu. Nyaris setiap hari Harian PELOPOR YOGYA yang ditempel di lokasi penempelan koran di kota dibayonet anggota KKO! Dua orang anggota KKO bersenjata AK-47 bahkan mendatanginya di kantor redaksi Jalan Malioboro Yogya. Dua anggota KKO itu ditipunya. Mantan Pejuang itu selamat. Untung empat orang RPKAD pengawalnya [dari Kol. Sarwo Edi Wibowo] belum bersama dia waktu itu. Kalau mereka ada, dua anggota KKO beri’tikad jahat itu mungkin “tammat”!

Sejak era dualisme (1966/67) s/d 1970-an koran itu sering meng-ekspos kasus KKN berat, di kalangan birokrat senior berjiwa maling di Pemda Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kasus kasus pelanggaran HAM, oleh beberapa aparat militer di Jawa Tengah, juga diekspos.

Berhentikah tekanan dan teror psikhologi atas dirinya? Ternyata tidak. Ketika saya masih di sltp diboncengkan Vespa 1964 oleh Jussac MR – ayah saya – mengurus kepindahan kantor redaksinya ke Semarang. Saat itu korannya mulai terbit “Senin – Kamis” akibat kesulitan cash flow.

Belakangan saya ketahui sekelompok elit GOLKAR di Jawa Tengah telah “beritikad baik” mengambil alih manajemen koran perjuangan itu. Kantor Redaksi di Jalan Malioboro Yogyakarta masih berfungsi. Jussac tetap produktif menulis “Pojok” (“PIKET”) dan TAJUK, yang tetap kritis terhadap berbagai penyimpangan di Pemda dan aparat keamanan Jateng & DIY. Kemudian, aneh, TAJUK dan Piket yang dibuatnya tidak dimuat. Paling parah, ia tidak dikirim gaji lagi! Elit GOLKAR di Jawa Tengah telah melakukan konspirasi jahat membungkam PemRed PELOPOR YOGYA!

Klimaksnya, ketika ia sedang di Jakarta sebagai anggota Komisi I DPR (FKP), tahun 1979 Deppen membredel Koran Minggu PELOPOR YOGYA dengan dalih yang dicari cari bahwa koran itu tidak terbit selama 6 bulan. Omong kosong besar jajaran eselon I Deppen! Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Nadjib, Slamet Djabarudi dll mengetahui kasus itu. Puluhan orang – dari redaksi, bidang usaha, agen, percetakan dll – kehilangan sumber nafkah. Slamet Djabarudi akhirnya jadi Redaktur Bahasa di TEMPO. Deppen, selama 30 tahun, telah menyengsarakan banyak orang! Harian MEDIA INDONESIA berkali kali diancam Harmoko hendak dibredel!

REZIM ORLA, ORBA, DAN REFORMASI SAMI MAWON: REPRESIF!

Deppen telah dikubur oleh Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid. Namun, dari kasus kasus terkini di depan, nampaknya peran tekan menekan telah diambil alih segelintir orang yang suka mengaku anggota BANSER! Orang orang ini akhir akhir ini sering mencemarkan nama baik kelompok muda Nahdliyyin, sebagai salah satu unsur penting – dan di garis depan – dalam perjuangan menghadapi teror orsospol PKI di era 1963 – 1965.

Bukan hanya insan Pers yang kini jadi sasaran teror mental kelompok orang yang mengklaim diri anggota BANSER itu. DR. Amin Rais pun, Ketua MPR, didholimi! Ia dicekal di Jawa Timur, seolah Jawa Timur hanya negerinya kaum Nahdliyyin.

Ini bumi Allah, Tuan Tuan! Bencana macam mana pula kalau – misalnya – KH. Alawy Muhammad tokoh PPP itu melakukan hal yang sama sekeji itu terhadap seorang tokoh NU kondang! Kawan kawan kita kaum Nahdliyyin di Jawa Timur itu, kiranya perlu diingatkan tentang satu firman Allah: “Jangan kalian berbuat dholim dan jangan mau didholimi!”. Melindungi diri dan membela diri terhadap serangan orang dholim adalah halal. Simak lagi QS. Asy-Syura: 41.

Kita semua adalah manusia da’if tidak lepas dari berbagai kekurangan dan cacat diri. Presiden, Wapres, Ketua DPR, Pak Matori Abdul Jalil, juga DR. Amin Rais tidak immune dari kesalahan dan kekurangan. Saya bukan pemuja Presiden K.H. Abdurrahman Wahid. Sama sekali bukan! Namun saya tidak memusuhi beliau as a person. Memusuhi pemimpin adalah sangat berbeda dengan sikap “mengkritisi” dan melakukan perlawanan [hujjah] atas kebijakan, tindakan, dan pernyataan munkar pemimpin yang cenderung berperilaku munkar, liberal, dan dholim.

Mau diakui atau tidak, oleh kawan kawan kita kaum Nahdliyyin, tidak sedikit ucap dan tindakan Presiden yang telah melukai banyak orang – bahkan di kalangan sesama muslim. Ini fakta, bukan membuka aib seorang pemimpin. Allah melarang kita membuka aib sesama muslim. Namun mengeritik secara santun, tetapi tegas, merupakan bagian dari kewajiban amar ma’ruf nahi munkar antarsesaama muslim. Simak sikap kritis Al Farizi terhadap Rasulullah tentang strategi menangkal serangan oleh musuh Islam. Cermati pula kritik keras Gus Sola terhadap abangnya, Sang Presiden. Amar ma’ruf nahi munkar WAJIB dijalankan setiap orang yang mengaku muslim istiqamah. Kalau tidak, menurut Rasulullah, “… maka Allah tidak akan mendengarkan lagi doa dan permintaan tolong olehmu.” Ini sabda Rasulullah, bukan hujjah saya.

Nilai secara jujur dan obyektif: (1) siapakah yang telah menyuruh masyarakat di Ambon menyelesaikan sendiri konflik antarummat beragama di Ambon?; (2) siapakah yang memberikan keleluasaan kepada di Irian Jaya untuk mengganti sebutan Irian Jaya dengan Papua?; (3) siapa yang bersahabat dengan musuh nyata ummat Islam [& Kristen utamanya di A.S.) – kaum Zionis Yahudi Israel – yaitu dengan tetap jadi anggota Shimon Peres Foundation?; (4) siapa pula yang mengutuk jihad, padahal jelas jihad adalah ibadah mulia perintah Allah?; (5) siapa pula yang secara lantang menolak pemberlakuan Syariat Islam oleh negara [di ANTV, Jum’at 14.30 23/07/1999]? Hukum Illahi yang justru untuk melindungi juga pemeluk agama selain Islam. Bukan DR. Amin Rais! Baca lagi beberapa firman-Nya tentang hal itu. Berani amat men-DUR-hakai perintah dan larangan larangan Allah! Ayat ayat Allah dikangkangi terus. DUSTA terus!

HANYA MENJALANKAN AMANAH

DR. Amin Rais sejak di kampus UGM, utamanya Fisipol Hubungan Internasional, memang dikenal sebagai pria yang lugas gaya bicaranya. Ceplas ceplos dengan gaya jenialnya. Ia, RI-1, RI-2 dan semua birokrat serta anggota DPR/MPR, DIGAJI antara lain dari hasil berbagai jenis pajak masyarakat. Gaji kami, puluhan juta profesional dan “orang swasta”, dipotong Pajak Pendapatan Pribadi. Kami ikut membayar aparat sipil/non-sipil pemerintah dan anggota Parlemen.

Pak Matori Yang Terhormat, jangan lupakan hal itu. Dengarkan dan perhatikan, secara serius, suara dan aspirasi kami Wajib Pajak. Sebagian anggota Parlemen mendapat fasilitas perumahan gratis di Kalibata, juga subsidi Rp 70 juta untuk membeli mobil. Presiden dan keluarganya tinggal di Istana Merdeka gratis pula, tidak perlu pusingkan meroketnya harga kebutuhan primer & sekunder serta tagihan telpun dan PLN. Plesiran ke luar negeri naik GARUDA dan hotel gratis. Begitu pula para “penggembira” di Istana.

Amin Rais selaku Ketua MPR selama ini lebih banyak hanya menjalankan kewajibannya. Yaitu mengingatkan dan memperingatkan Presiden, atas berbagai kebijakan polekkam, yang tidak seluruhnya mencerminkan aspirasi rakyat (yang mayoritas muslim!). Nampaknya tidak satu kali pun Amin Rais pernah menghina Presiden RI. DR. Amin Rais dibayar untuk melakukan itu. Begitu pula Bang Akbar Tanjung selaku Ketua DPR. Itu semua amanah. Kalau elit PBNU dan PKB kemudian menuduh Pak Amin biang kerok upaya melengser Presiden, itu tuduhan berlebihan dan sikap tidak Islami lebih didasari hasad dan indikasi penyakit qalb [hati] ghurur.

Selama ini segelintir elit Nahdliyyin paling gemar menghujat tindakan tegas dan keras FPI vs. bisnis maksiat di Jabotabek sebagai tidak Islami. Apa yang telah Tuan Tuan lakukan terhadap maraknya perjudian di kampung Jabotabek, yang justru dilakukan juga oleh orang berpredikat haji di Jakarta Selatan [bukan simpatisan P.K., PPP, dan PBB)? Apa pula yang dilakukan oleh elit Ansor, BANSER, PKB dan PBNU; terhadap tradisi jahiliyah membakar mercon – yang bukan ajaran Rasulullah tetapi selama ini dibiarkan terus marak di Jabotabek? Tolong Tuan Tuan buktikan, bahwa kebiasaan buruk dan “budaya” jahiliyah itu bagian dari ajaran Islam.

Macam mana pula adab bertetangga (ajaran Allah) kelompok masyarakat, yang mengaku muslim tetapi sangat pemboros dan riya’ itu? Tidakkah mereka menyadari, bahwa membakar mercon – bukan hanya di bulan Ramadhan – selalu sangat mengganggu ketenangan bukan hanya sesama muslim; tetapi juga ketenteraman hidup ummat Hindu, Buddha, dan Kristen (Katholik dan Protestan). Kita coreng muka kita sendiri! Itukah bentuk toleransi Islam? Perilaku islamikah itu? Tolong dijawab secara jujur. Koreksilah aib diri kita sendiri. Negeri ini dihuni bukan hanya muslim!

Setiap menjelang bulan suci Ramadhan kita muslim selalu self pity memasang spanduk “Hormatilah Bulan Suci Ramadhan”. Tetapi justru ummat kita sendiri, mayoritas ummat muslim di Jabotabek, yang sengaja SELALU mencemari kesucian Ramadhan dengan perilaku jahiliyah itu! Imam Ghazali menyebutnya perilaku ummat bodoh. Dan elit PBNU DIAM saja, sebab terus membiarkan diri lebih diobsesi oleh politicking dan memperkaya diri. Nikah mut’ah [menikahi wanita tanpa saksi dan mahar] yang telah diharamkan Allah, seorang Kiai nekad melakukannya!

Islamikah pula tindakan sepihak menekan dan mengancam kalangan pers, Pansus BulogGate, dan pencekalan terhadap DR. Amin Rais itu? Sikap Islami pulakah nyinyir terus seusai shallat Jum’at, terhadap sikap kritis kalangan DPR dan tokoh tokoh non-Nahdliyyin atas berbagai praktek KKN yang sangat menjijikkan saat ini? Sikap Islamikah pula kalau seorang Kiai NU [di Jawa Timur] secara lantang menyatakan, bahwa darah DR. Amin Rais halal – alias halal dibunuh?

Adalah kaum Zionis Yahudi, Fascist Nazi, dan kaum Komunis [dan PKI] yang paling gemar menggunakan cara cara menekan dan teror sepihak seperti itu. Silahkan baca kisah James Gordon Bennet, boss NEW YORK HERALD (90 tahun s/d 1920), melawan tekanan busuk dan boikot iklan oleh kalangan pebisnis Yahudi New York dalam “The Battle For Press Control”.

Orang yang cerdas dan tidak bodoh mengetahui, bahwa beberapa tokoh bisnis Yahudi di New York dan di Eropa adalah sponsor utama gerakan Bolshevic Russia tahun 1917. Istri Stalin adalah Jewesse (Yahudi wanita). KARL Heinrich MARX (lahir di Trier, Propinsi Rhine, Prussia kini Jerman pada 5 Mei 1818 wafat 14 Maret 1883) adalah Yahudi “totok” putera Ny. Herietta Pressburg dari Belanda. Seperti suaminya (ayah Karl Marx), Herietta adalah keturunan rabbi Yahudi (buka: KARL MARX ON THE JEWISH QUESTION di http://abbc.com/marx/marxem.htm)

Tahukah pula Tuan Tuan bahwa penggagas “New Left” di Amerika di awal 1940-an adalah “pelarian” Yahudi Jerman? Kaum Bolshevic sangat menindas Kristen Orthodox di Russia. Adalah kaum Yahudi di A.S. yang mengarsiteki Undang Undang Aborsi dan LARANGAN (dalam Konstitusi A.S.) pendidikan agama di seluruh public school (SD s/d SLTA) di A.S.

Nyaris seluruh bisnis media cetak, elektronika dan film; bisnis maksiat; narkoba; miras; pelacuran; entertainment [“wrestling” & tinju] dan perjudian di A.S. dikelola dan dimodali para cukong Yahudi Amerika (buka: The New World Order & The Destruction of America di http://members.aol.com/psikotiqe/pt1.htm oleh orang Kristen taat!). Simak kota kota besar Indonesia, utamanya DKI, siapa para cukong bisnis maksiat. Mereka adalah pebisnis lokal berotak Yahudi, sadar atau tidak sebenarnya budak dan kolaborator Yahudi! FAKTA: adalah Fraksi PDIP & PKB DPRD DKI yang menentang penutupan bisnis maksiat di DKI selama Ramadhan.

Jelas, Komunis dan Yahudi setali tiga uang. Maka cintailah terus kaum Komunis dan kaum Yahudi. Kaum yang sangat membenci ummat Kristen, ummat yang di dalam “kitab suci” kaum Yahudi [yakni TALMUD buatan para Rahib Yahudi sesat] disebut Goyim atau Gentile — alias sapi [buka: Statement by Professor Israel Shahak on the “JEWISH HATRED TOWARDS CHRISTIANITY” http://abbc.com/islam/english/toread/shahak.htm ].

Adalah kelompok Lawyer ultra liberal berotak dan didanai Yahudi A.S., yang terus menekan kalangan pemuka gereja konservatif di A.S. Menjadi kewajiban setiap orang Yahudi, di mana pun di bumi, membantu Opsus MOSSAD melancarkan teror dan usaha pembunuhan atas orang orang Yahudi Reformis (di Qur’an disebut “Ahlul Kitab” yang soleh dan taat kepada Allah).

Meludahi Salib menjadi tradisi di Israel bagi orang orang Yahudi pemeluk Kristen yang kembali ke ajaran Judaisme. Tuan Tuan, Yahudi meludahi Salib dan dikawani Sang Kiai! Allah bahkan MELARANG ummat muslim menghina sesama orang meskipun berbeda keyakinan agama dan beda suku. Allah melarang muslim menghina dan merusak gereja. Yahudi? Sangat memusuhi!

Tuan Tuan, bersikap jujur dan obyektiflah kalau mengaku muslim beneran. Menolak bersikap kritis dan terus membenarkan sikap pemimpin yang “menyahabati” Yahudi, adalah sama dengan mengamini kebiadaban Zionis Israel (Yahudi)!

Mencekal DR. Amin Rais di wilayah Jawa Timur adalah tindakan melanggar prinsip HAM PBB. Article 19 The Universal Declaration of Human Rights, Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa, 10 Desember 1948, menyatakan: “Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this includes freedom to hold opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any media and regardless of frontiers.”

Kalau PKB mendukung gagasan absurd penghalalan kembali Komunisme/Marxisme di bumi Nusantara yang berpenduduk masyoritas muslim ini, dan mendasarkannya pada The U.N. Charter tsb; sungguh naif dan tindakan gegabah anti Islam. Sebab kebebasan yang dimiliki PKI di masa lalu telah mereka salah-gunakan, justru untuk menginjak-injak prinsip tsb terhadap unsur mayoritas bangsa ini! Apa yang Tuan Tuan cari? Ridho Yahudi dunia, musuh utama ummat muslim dan Kristiani? Tolong buktikan bahwa kaum Yahudi tidak memusuhi ummat Kristiani. Baca TALMUD, Bung! Buka lagi Al Qur’an. Mari kita sama sama simak firman-Nya tentang kaum Yahudi.

Tuan Tuan, Ibu Ibu di PKB, PBNU, BANSER dan GP ANSOR, harap dicatat: mendukung pencabutan TAP MPRS 25/1966 adalah sama dengan mengamini ajaran Marxisme/Komunisme yang sangat sesat, anti demokrasi dan atheist. Maka setali tiga uang dengan Yahudi/Zionis. Yahudi pun atheist, sebab “Tuhannya” — Yahweh — bukan Allah SWT. Ingat pula fakta, kaum Yahudilah yang mensponsori dan mendanai gerakan Bolshevik (Komunis) di Russia 17 Oktober 1917. Sebagian anggotanya adalah Yahudi Komunis! Ini adalah bagian dari sejarah dunia Tuan Tuan. Ingat pesan Bung Karno: JASMERAH, Jangan Sekali kali Melupakan Sejarah. Jadilah ummat yang cerdas & istiqamah. Bukan bodoh dan mau diperbudak kaum Yahudi dan anteknya.

SIDANG TAHUNAN MPR: SARANA PENEGAKAN “ACCOUNTIBILITY” PRESIDEN RI

Sejak kita sekolah, dari kelas satu di SD s/d kelas tiga SLTA, setiap kwartal menerima rapor. Rapor adalah evaluasi reguler, antara lain, tentang tingkat pemahaman siswa atas seluruh pelajaran yang diberikan oleh para guru. Di kalangan PNS dikenal penilaian kinerja pertahun yang disebut DP3 [maaf, a total B–l S–t lebih didasari favoritisme]. Di kalangan pekerja swasta pun diberlakukan annual appraisal. Yakni penilaian atas tingkat kompetensi, potensi, dan attitude pekerja di semua level [operator s/d CEO utamanya di A.S.].

Di kalangan militer sistem penilaiannya jauh lebih “sadis”. Di jajaran TNI “gabah gabuk” atau yang di Barat disebut “deadwood” bakal “diparkir” atau dipensiun dini. Di bawah – waktu itu – Dirjen Pajak DR. Fuad Bawazir, ratusan PNS Dit.Jen. Pajak, dan Bea Cukai di-“demosi” [lawan kata promosi] atau diberhentikan secara hormat/tidak hormat akibat ketahuan berjiwa maling. Di era pemerintahan Reformasi hal itu tidak terdengar lagi.

Permalingan dibiarkan jalan terus. KKN: “Kiri Kanan Nyolong” terus ditolerir. Semua hukum Illahi diterjang dan dikangkangi. Negeri ini dibiarkan menjadi sorga pebisnis swasta dan PNS berjiwa garong dan rakus. Cermatilah: dari mana seorang pejabat eselon tiga [unit khas penegak hukum] mampu memiliki empat mobil pribadi, termasuk satu jenis MPV impor anyar gres, semua kelas di atas Rp. 200 juta perbuahnya? Warisan orangtuanya? MBahmu! Di kalangan pebisnis Barat CEO pun kinerjanya dinilai oleh shareholders. CEO GILLETE baru baru ini dipecat akibat kinerja yang memble. Media cetak dan elektronik kini dipantau ketat dan dinilai Media Watch. Indonesia tak lepas dari teropong The Asia Watch di New York.

Adalah sikap amat sangat arogan dan tidak mensyukuri ni’mat Allah, jika menolak dan bahkan terus menyelisihi fungsi kontrol serupa – oleh MPR – terhadap kinerja Presiden RI. Dibayar oleh elit PBNU kah Presiden RI? Seminggu menjelang Pemilu 1999, ketika Ketua MUI berfatwa tentang memilih pemimpin (sesuai syariat Islam), adalah Matori (dalam acara kilas balik Pemilu di TV swasta), K.H. Agil Shiraj, dan Ketua Umum PBNU waktu itu – yang “kebakaran jenggot” menyebut MUI telah bermain politik. Baru baru ini PBNU-lah yang secara lantang menolak Sidang Tahunan MPR. Lha! Siapa kini yang berpolitik praktis? Siapa, Tuan Tuan?

Ketika Wapres RI kemudian mencoba meredam gejolak tentang ST itu – berkat “lobi” intens Ketua Umum PBNU – Ketua Komisi I DPR pun lalu “membeo”. Ia menyatakan bahwa ST tidak perlu dilakukan. Cukup SU MPR. Inilah cerminan sikap tidak memahami dan buta isu isu crucial proses manajemen organisasi moderen. Politicking melulu yang digeluti! Bung Yasril Yang Terhormat, ST adalah bagian dari upaya penegakan accountibility Presiden. Sidang Tahunan bagian dari upaya HALAL, dan SAH, penegakan Good Governance. Kini Bung ikutan menolak ST. Anda ABS, agar dapat terus ikut plesiran – gratisan – ke luar negeri lagi? Mana pula mission report-mu selama ini ikut plesiran ke luar negeri, Bung?

Lembaga Kepresidenan bukanlah a free-ride Presidency! I shall hold you, and Ketua PBNU, personally responsible – jika dari November 2000 s/d Oktober 2004 kita mengalami bencana poleksoskam lagi. Bung mendapat fasilitas rumah gratisan pula di Kalibata dan subsidi Rp. 70 juta untuk beli mobil. Do you pay income tax? You are moslem. But apparently you are of the opinion that it’s not your contract, too, to be doing amar ma’ruf nahi munkar. Berani pula bicara soal Aceh, tanpa memahami the heart of the matters of Aceh! Shame on you!

Kepada DR. Amin, selaku mantan yunior panjenengan di Fisipol Hubungan Internasional UGM; izinkan saya menghimbau: make no more strong political statements on President Abdurrahman Wahid’s administration. Give him an other chance. Give him a break, agar bersama tim Kabinetnya membenahi negeri kusut dan bangsa kufur ni’mat Allah ini. Mari kita doakan, kiranya Allah swt memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada para elit dan kaum Nahdliyyin (utamanya Ketua PBNU) – termasuk Presiden RI — untuk mampu dan MAU berfikir secara jernih dan berkinerja lebih baik. Tidak terus dikungkung oleh hasad dan ghurur.

Sudilah kiranya DR. Amin Rais memberikan sedikit rasa empati pula kepada Sang Kiai, yang penglihatannya tidak sempurna lagi dan pernah mengalami stroke dua kali. Mengalami cobaan dan kondisi pisik serupa, sangat mungkin kitapun bakal frustrasi dan kedodoran mengurus negeri “tak bertuan” ini. Afterall, K.H. Abdurrahman is a mortal. Bukan malaikat tanpa cacat.

Sebaliknya, menjadi kewajiban kita terus mengingatkan saudara saudara kita sesama muslim, sebagian warga Nahdliyyin pemuja Presiden Abdurrahman Wahid — untuk kiranya mampu berpikir secara jernih dan obyektif menyikapi perilaku para pemimpin kita. Niat Pimpinan GP ANSOR [ditulis media cetak beberapa hari yl] hendak menggelar 1000 “pasukan” di Jakarta – dalam rangka melindungi Presiden dari kelompok “anti Gus Dur” – adalah nawaitu tergolong membabi buta, provokatip dan kontra produktip. Mau memerangi siapa? Kemaksiatan?

Siapa sih sebenarnya, yang kita muslim WAJIB meng-AGUNG-kan? Gusti Allah atau pemimpin kita [siapapun nama dan panutan ideologinya!] yang notabene manusia dai’f? Berapa kali kita melafalkan Allahu Akbar [Allah Yang Maha Besar/Maha Agung] dalam shallat fardlu dan sunnat kita, plus dzikir standard dan optional – di manapun kita berada setiap hari?

Sungguh sangat TIDAK berarti dan SIA SIA hal itu [Allahu Akbar], kalau kita TETAP dan TERUS secara membabi buta lebih meng-AGUNG-kan Pemimpin yang dai’f. Apapun gelar, garis keturunan, dan kedudukannya. Haruskah kita menggantinya dengan “Polanhu Akbar?”. Sungguh keji dan bodoh kita jadinya. Sebab antara nawaitu, hujjah [ucapan] dan tindakan menjadi TIDAK sinkron.

Mari kita sama sama simak lagi Al Qur’an. Sikap seperti itu dikategorikan munafik. Bagi kita yang tetap hendak membiarkan diri dikungkung oleh pengagungan berlebihan terhadap pemimpin, berkat garis keturunan istimewanya, ada baiknya menyimak lagi satu kisah dalam hadith Rasulullah ini: tatkala puteri Rasulullah meninggal dan siap dikuburkan, seorang sahabat beliau berucap kepada kubur: “Wahai kubur, tahukah engkau bahwa yang meninggal ini adalah puteri Rasulullah!” Kubur pun – dengan izin Allah swt – menjawab, bahwa ia [kubur] tidak peduli keturunan siapapun si calon penghuni liang lahat. Ia [kubur] lebih mengutamakan taqwa almarhum kepada Allah swt ketika ybs masih hidup. Cukup jelas, bukan?

Izinkan saya mengutip salah satu firman-NYA berikut ini. Tuan Tuan dan Ibu Ibu, para politisi PDIP dan PKB di DPRD DKI Jaya yang MENOLAK penutupan sementara atas bisnis maksiat di Jakarta selama Ramadhan, sudilah kiranya menyimak lagi QS. Al-Maidah: 2 ini: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebajikan dan taqwa, dan JANGAN tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Berkaitan dengan “fatwa” seorang Ulama N.U., di Jawa Timur baru baru ini, bahwa DR. Amien Rais halal dibunuh, dengan segala hormat saya ingin mengingatkannya. Sungguh keji mulut Anda! Anda telah menebar permusuhan yang sangat nyata terhadap sesama muslim yang bukan pezinah dan bukan manipulator uang rakyat. Tidakkah Anda simak sabda Rasulullah ini:
“Orang orang Islam yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah, dan bahwasanya aku [Nabi Muhammad] Rasul-Nya, mereka tidak halal dibunuh kecuali karena tiga sebab: Pertama, sayib [janda] berzina. Kedua, orang yang membunuh orang. Ketiga, orang yang keluar dari agamanya.” [Riwayat Jamaah ahli hadith].

Semoga Allah memberkahi kita. Wa hasbunullahu wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nasiir.

Wassalam.

Yusuf Jussac, Jr. (Yusuf Nugroho)

Disesuaikan oleh Agung, dipublikasikan atas ijin langsung dari Mr. Joe Jussac. Dipublikasikan sebagai preemptive discourse menjelang Pemilu 2009 nanti, juga sebagai preemptive strike untuk gerakan KGB (Komunis Gaya Baru) yang mewabah di kalangan generasi muda, terutama tapi tidak terbatas mahasiswa Sospol, seperti saya. Artikel aslinya dimuat di http://www.library.ohiou.edu/indopubs/2000/12/11/0034.html.

BAGAIMANAPUN PKI DAN IDEOLOGI KOMUNIS HARUS DIBERANTAS SAMPAI KE AKAR-AKARNYA, KARENA PKI YANG ATHEIS ITU TERNYATA LEBIH KEJI DARIPADA IBLIS YANG TERKUTUK. IBLIS MASIH LEBIH BERMORAL KARENA MENGAKUI ADANYA ILAH YANG MEMBERINYA KEKUASAAN UNTUK MENGGODA MANUSIA-MANUSIA YANG LEMAH AKAL DAN IMAN, SEDANGKAN PKI BERANI MENIADAKAN ILAH DARI KAMUS KEHIDUPAN MEREKA. PKI MEMANG JAHANAM YANG TERKUTUK. GANYANG PKI DAN ANTEK-ANTEKNYA…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: