Posted by: Agung Prabowo | July 25, 2008

Conspiratorial View Bukanlah Alternatif, Melainkan Kebutuhan

Menanggapi respon beberapa teman ke email saya (karena malu komentarnya nampang di blog) yang ingin tahu lebih jauh mengenai Conspiratorial View of History (selanjutnya akan saya sebut sebagai Conspiratorial View saja) dan Accidental View of History (selanjutnya akan saya sebut sebagai Accidental View saja) yang secara sangat ringkas sudah saya singgung di artikel terdahulu, KONSPIRASI: REFORMAT KURIKULUM PENDIDIKAN SEJARAH, kali ini saya akan menjelaskan mengenai pendekatan sejarah tersebut dengan lebih luas. Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa History bukanlah His story. Kalau mau ngomong sejarah harus memakai referensi, baik “valid” maupun “kurang valid” (disini teori relativitas berlaku, yaitu valid untuk siapa dan tujuan apa), jangan asal katanya aja. Sekurang-kurangnya ada 3 buku yang saya miliki yang memperkenalkan dikotomi pendekatan sejarah ini.

Yang pertama, tentu saja buku andalan saya yang berjudul THE UNSEEN HAND: AN INTRODUCTION TO THE CONSPIRATORIAL VIEW OF HISTORY, karya A. Ralph Epperson, yang dihadiahkan oleh Mr. Joe Jussac yang juga menjadi salah satu kontributor blog konspirasi ini. Buku ini mungkin bisa dikatakan paling komprehensif dalam mengulas Conspiratorial View, karena pengarangnya telah melakukan riset untuk Conspiratorial View of History ini selama 27 tahun lebih (umur saya sampai tulisan ini dipublish pun belum mencapai 24 tahun). Karena ini bukan biografi, maka data-data beliau – dan penulis-penulis lain – saya lewati dan langsung menuju ke bagian yang sejalan dengan judul tulisan ini saja.

Epperson mendefinisikan Conspiratorial View of History sebagai pandangan bahwa “historical events occur by design for reasons that are not generally made known to the people” (kejadian-kejadian historis terjadi karena sengaja direncanakan dengan alasan-alasan yang umumnya tidak untuk diketahui orang/publik), sebagai imbangan dari apa yang disebut sebagai Accidental View of History yang didefinisikan sebagai pandangan bahwa “historical events occur by accident, for no apparent reason. Rulers are powerless to intervene.” (kejadian-kejadian historis terjadi secara kebetulan, tanpa adanya alasan yang jelas. Para pemegang kekuasaan tidak berkuasa untuk terlibat didalamnya.)

Dari dikotomi tersebut jelas kita bisa langsung mendapat gambaran betapa “taklid”nya para konsumen Accidental View terhadap sejarah. Kita tak perlu mempertanyakan sebab-sebab suatu peristiwa bisa terjadi, bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sekarang, apalagi kehidupan nanti. Dengan istilah yang mudah, pembelajaran sejarah menjadi tak lebih sebagai pelajaran hafalan nama, tempat, waktu, suatu kejadian berlangsung dalam sejarah. Inilah yang terjadi pada pembelajaran sejarah kita (pantes ngga ya saya ngomong gini, soalnya saya bukan orang sejarah secara Akademis. Kalau ada mahasiswa atau dosen sejarah yang merasa saya kurang ajar harap dimaafkan) di Indonesia. Dari SD sampai SMA (saya kuliah Diploma III Jurusan Bahasa Inggris di salah satu Akademi Bahasa Asing di Jogja yang tak terlalu terkenal), yang saya dapat dan catat hanyalah nama-nama pahlawan atau penjajah, tanggal dan tahun peperangan, atau tempat dimana suatu perjanjian diadakan. Ujiannya juga ngga jauh dari itu-itu juga. Saya malas membahas masalah ini panjang lebar karena siapapun yang sudah merasakan pendidikan dari SD sampai SMA di Indonesia sudah pernah merasakannya.

Lalu coba kita lihat Conspiratorial View, yah anda benar. Lebih rumit daripada Accidental View. Jika kita mau memakai Conspiratorial View, kita dituntut untuk menemukan rancangan, perancang, sebab-sebab dirancangnya, dan aspek-aspek lain dalam suatu kejadian historis. Kelihatan rumit, dan – sedikit keluar dari topik – saya pernah melakukan survey tak resmi ke sejumlah mahasiswa sejarah yang bisa saya temui di Jogjakarta. Semua yang pernah saya temui beberapa tahun ini kebanyakan baru mengetahui ada dua pendekatan sejarah itu dari saya. Tapi mereka bisa menceritakan kejadian atau pelaku sejarah dengan kualitas spelling nama tempat atau orang yang mengagumkan, serta akurasi tahun-tahun hidup seseorang maupun berlangsungnya suatu kejadian dengan tepat. Namun mereka harus terdiam ketika saya tanyakan, apakah tujuan mereka mempelajari sejarah? Rata-rata menjawab kurang lebih, “agar bisa belajar dari masa lampau demi kehidupan sekarang dan masa depan yang lebih baik.”

Saya tersenyum mendengar jawaban itu, lalu kembali saya tanyakan pada mereka, “apa yang bisa kita harapkan untuk kehidupan sekarang maupun mendatang dari hafalan nama, tempat, dan waktu saja?” Waktu mereka bingung disinilah peran saya sebagai pewarta (bagi para penginjil harap jangan tersinggung ya, karena saya memakai istilah ini sebagai euphemism terhadap kata propagandis yang konotasinya jelek) Conspiratorial View. Dimana-mana orang seperti saya ini selalu dikatakan paranoid, suka menghubung-hubungkan, bahkan orang yang sakit jiwa, capek deh (maaf malah jadi curhat). OK, kembali ke topik semula.

Dari definisi yang diberikan Ralph Epperson, saya melihat ada beberapa unsur (kalau ada yang mau nambah dipersilakan loh…) yang mendukung suatu kejadian dalam sejarah, diantaranya yaitu: 1. the conspirators alias para perancang konspirasi, 2. the reasons of a conspiracy alias sebab-sebab kenapa konspirasi itu dirancang, dan 3. the alibi alias cara-cara penghilangan jejak supaya konspirasi tidak dicurigai sebagai konspirasi. Keberhasilan unsur yang ketiga inilah yang membuat konspirasi sering menjadi misteri, spekulasi, bahkan terasi, eh salah, dianggap ba(ha)sa basi. Lalu, apakah konspirasi mustahil diungkap? O tunggu, jangan menyerah dulu.

Epperson memberikan tiga alternatif untuk mengekspos konspirasi, yaitu: 1. Bagi seseorang yang terlibat dalam konspirasi tersebut agar memisah dari situ dan mengungkapkan keterlibatannya sendiri. Pengungkapan ini membutuhkan keberanian ekstrim dan tipe ini memang sangat jarang, namun mungkin orang-orang seperti Leo Zagami, atau Caroll Quigley bisa dimasukkan dalam kategori ini.; 2. Bagi mereka yang dengan ke”belum-tahuan”nya ikut berpartisipasi dalam perencanaan konspirasi, dan baru menyadarinya kemudian lalu melakukan pengungkapan seperti pada kelompok pertama sebelumnya. Tipe orang seperti ini juga sangat jarang dalam sejarah, tapi mampu mengekspos bagian tersembunyi dalam konspirasi, dengan resiko yang bisa membahayakan nyawanya. Orang-orang seperti John Robison penulis buku PROOFS OF A CONSPIRACY, William Morgan, atau Charles G. Finney mungkin bisa dimasukkan dalam kategori ini.; 3. Bagi mereka yang belum “dianugerahi” kesempatan untuk ditawari bergabung dan terlibat dalam konspirasi, yaitu dengan mengungkapkan design konspirasi pada kejadian-kejadian yang telah lalu. Epperson mengkategorikan dirinya sendiri dalam tipe ini, yang merupakan tipe ekspose yang paling banyak terjadi. Beberapa orang lain yang mungkin bisa saya masukkan dalam kategori ini diantaranya Gary Allen, Eustache Mullins, Jury Lina, Fritz Springmeier, Joe Jussac, Jim Marrs, Harun Yahya, Herry Nurdi, Rizki Ridyasmara, Firdaus A.N atau saya sendiri.

Yang kedua, buku berjudul SECRET SOCIETIES AND THEIR POWER IN THE 20TH CENTURY karya seseorang dengan nama samaran Jan Van Helsing yang aslinya ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul GEHEIMGESELLSCHAFTEN UND IHRE MACHT IM 20 JAHRHUNDERT, yang merupakan hadiah dari bang Indra Adil penulis novel THE “LADY DI” CONSPIRACY terbitan Pustaka Al-Kautsar. Van Helsing menyebutkan dua dikotomi sejarah dengan istilah yang berbeda dari Ralph Epperson, yaitu “two levels of historical reality” (dua tingkatan realita sejarah). Tingkatan pertama adalah yang disebut sebagai so-called public opinion (opini publik) yang didefinisikan “that is served to the average citizen by the mass media and will later, because of persons writing it down, become history” (diperuntukan bagi masyarakat pada umumnya oleh media massa dan nantinya, karena sebagian orang meyakini kebenaran itu lalu menulisnya, berubah menjadi sejarah). Lalu “the second one though is made up of the happenings that are not revealed to the public.” (yang kedua, meski terbentuk dari hasil berbagai peristiwa yang tidak (pernah) dibeberkan ke publik). Ini merupakan world of machinations oleh loge-loge rahasia dan secret-societies yang menghubungkan modal, politik, ekonomi, dan agama. Pada tingkat ini negara didirikan, perang direncanakan, para presiden dan pemimpin ditugaskan di kantor, dan ketika mereka tidak “berfungsi”, dihabisi.

Meski dengan terminologi yang berbeda, namun van Helsing rupanya setuju dengan Epperson mengenai masalah konspirasi. Bahkan dalam mendefinisikan Accidental View, yang oleh van Helsing disebut sebagai public opinion, dia langsung mengarahkan telunjuknya pada media massa (koran, TV, Radio, Film, literatur umum dll) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembentukan ke”awam”an (ketidaktauan dan ketidakpedulian) publik terhadap masalah konspirasi. Pada tingkatan kedua, meskipun tidak memberikan teminologinya, namun dia memberi contoh yang sangat bagus (lihat kalimat terakhir paragraph sebelumnya). Buku ini sangat sulit didapatkan, bahkan di internet sekalipun. Salah satu edisi full online buku ini yang saya temukan di situs bibliotecapleyades (maaf kalau salah spellingnya) tidak menyertakan gambar-gambar pesawat mirip UFO yang dipakai Hitler. Membaca buku ini agak ngeri karena terkesan penulisnya merupakan salah satu partisipan konspirasi yang berkhianat, sehingga segala isinya hampir meyakinkan.

Yang ketiga, buku berjudul NONE DARE CALL IT CONSPIRACY karya Gary Allen, yang bisa dibilang hampir menjadi salah satu buku wajib bagi pembelajar konspirasi, dan menjadi salah satu referensi dalam Daftar Pustaka kedua buku yang disebut sebelumnya. Gary Allen memakai terminologi yang sangat mirip dengan Epperson (atau malah mungkin Epperson-lah yang terilhami untuk mengistilahkan Conspiratorial dan Accidental View dari buku Gary Allen ini) yaitu Conspiracy Theory of History dan Accidental Theory of History.

Gary Allen tidak memberikan penjelasan yang eksplisit mengenai dikotomi tersebut, namun dia menjelaskannya dalam satu paragraph yang bagus sebagai berikut: (Maaf, saya malas menerjemahkannya, panjang sih…)
Those who believe that major world events result from planning are laughed at for believing in the “conspiracy theory of history.” Of course, no one in this modern day and age really believes in the conspiracy theory of history — except those who have taken the time to study the subject. When you think about it, there are really only two theories of history. Either things happen by accident neither planned nor caused by anybody, or they happen because they are planned and somebody causes them to happen. In reality, it is the accidental theory of history preached in the unhallowed Halls of Ivy which should be ridiculed. Otherwise, why does every recent administration make the same mistakes as the previous ones? Why do they repeat the errors of the past which produce inflation, depressions and war? Why does our State Department “stumble” from one Communist aiding “blunder” to another? If you believe it is all an accident or the result of mysterious and unexplainable tides of history, you will be regarded as an “intellectual” who understands that we live in a complex world. If you believe that something like 32,496 consecutive coincidences over the past forty years stretches the law of averages a bit, you are a kook!

Jadi sekarang sudah mulai masuk akal bahwa kami* memberi judul artikel ini Conspiratorial View Bukanlah Alternatif, Melainkan Kebutuhan. Yah, kita sudah terlalu lama dicekoki hafalan-hafalan yang saya yakin tak akan berpengaruh banyak bagi kehidupan sekarang, apalagi yang akan datang. Apa yang sudah kita dapatkan dari sekedar hafal bahwa 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamirkan bagi kehidupan kita yang tak juga semakin baik sekarang ini, dan entah mau sampai kapan?
(Cerita) Sejarah standar [his story] kita tak pernah mengajari bahwa negeri ini hancur karena kemerdekaan yang diperjuangkan sebagian besar kaum muslimin tidak diproklamirkan dengan Bismillah. Sejarah standar tak pernah mengajarkan Freemasonry sudah masuk Indonesia tahun 1700an, sesuatu yang sangat parah sehingga sebagian besar kita saat ini masih menganggap Freemasonry hanya ada dalam novel atau dongeng. Sejarah standar tak pernah memberitahu atau menerangkan sudah menjadi Freemason berapa derajatkah Thomas Stanford Raffles, Snouck Hurgronje, dan penjajah lainnya. Sejarah standar tak pernah memberitahu bahwa Kapolri Pertama kita adalah seorang Grand Master. Sejarah standar mengabaikan peran tempat-tempat maupun bangunan-bangunan bernama Loji, dan jarang mengetahui apa yang dimaksud dengan Loji tersebut. Sejarah standar hanya mencekoki kita dengan segala hafalan yang tidak ada gunanya untuk kehidupan sekarang, apalagi nanti di akhirat. Di kuburan kita tak akan ditanyai siapa itu Snouck Hurgronje, kapan SUPERSEMAR dikeluarkan, atau di mana perjanjian Renville diadakan.

Sudah saatnya kita buka mata masing-masing kita yang ingin melihat kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu kita semua. Sudah saatnya kita desak departemen pendidikan nasional untuk memasukkan Conspiratorial View ke dalam kurikulum sejarah kita sebagai suatu keharusan, supaya anak-anak kita bisa menikmati dunia yang lebih baik dari kita sekarang. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari keterpurukan akibat pemahaman sejarah standar cekokan tanpa bisa dikritisi seperti yang selama ini kita telan. Ingat, dengan memahami dan mengerti bagaimana konspirasi bekerja adalah modal terbesar dan ampuh (kemungkinan besar ditakuti para konspirator) untuk memulai agar tidak terjebak ke dalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Saatnya membangun kecerdasan, emosi, dan moral masyarakat Indonesia yang katanya negeri berpenduduk Muslim dengan jumlah terbesar di dunia ini agar tidak dibodohi terus, karena bagi orang Islam perintah pertama baginya adalah membaca.

Mohon tanggapannya kalau masih ada hal-hal yang belum jelas. Terimakasih, semoga berguna.

Pustaka Pilihan:

A. Ralph Epperson, THE UNSEEN HAND
Caroll Quigley, TRAGEDY AND HOPE (A)
Gary Allen, NONE DARE CALL IT CONSPIRACY (A)
Herry Nurdi, JEJAK FREEMASON & ZIONIS
Herry Nurdi, KEBANGKITAN FREEMASON & ZIONIS

Jim Marrs, RULE BY SECRECY
John Robison, PROOFS OF A CONSPIRACY (A)
Jan van Helsing, SECRET SOCIETIES IN THE 20TH CENTURY
Paul W. van der Veur, FREEMASONRY IN INDONESIA (A)
Th. Stevens, TAREKAT MASON BEBAS

* Terimakasih untuk seorang Gadis Manis Mungil yang “memaksa” saya untuk menulis lagi tentang Conspiratorial View ini sedikit lebih luas dan mengusulkan judulnya.

(A) AVAILABLE TO DOWNLOAD FROM THIS BLOG. Silakan menuju halaman E-books kalau mau mendownloadnya tanpa dipungut biaya.

Ditambahkan pada 3 Agustus 2008:
Jim Marrs dalam bukunya RULE BY SECRECY juga membahas dikotomi ini. Dikotomi tersebut yaitu sama pada dikotomi yang dikemukakan Epperson, yaitu Accidental dan Conspiratorial. Jim Marrs mendefinisikan Accidental View sebagai “is that history is simply a series of accidents, or acts of God, which world leaders are powerless to alter or prevent”, sama seperti yang dikemukakan Epperson. Sedangkan Conspiratorial View didefinisikan sebagai “could more accurately be called the “cause and effect” view. Obviously, accidents occur. Planes, trains, and cars crash. Ships sink. But in history, it is clear that human planning most often precipitates events.” Secara global masih sama dengan 3 dikotomi sebelumnya. (Terimakasih untuk seorang sahabat yang telah mengusulkan untuk memasukkan bukunya Jim Marrs berkaitan dengan dikotomi pandangan dalam sejarah.)


Responses

  1. MANTAP BANGET. Tambah pinter saya baca artikel ini. Departemen Pendidikan Nasional, Quo Vadis?

  2. hmmm…maksud si pengoment di atas apa yah?
    sindiran or…

    bagaimanapun…bentuk komunitas ANTI CONSPIRATIONnya…garis bawahi org2 yg munafik yg malah menikam dr belakang….
    mungkin mata hati mereka mati….atau…
    mematikan mata hati kita????….

    benarkah CONSPIRATION harus dilawan dengan CONSPIRATION???…
    semua mata rantai akhir zaman ini sgt komplex
    permainan catur pihak putih baru melangkah …sementara pihak hitam udah skak-ster….
    inilah indonesia……..
    apa kita harus kena skak-mat?????

    semoga semakin banyak yg berani menguak n melawan system conspiration n the handlers….
    amin.

  3. To nx:

    Kelihatannya nyindir Departemen Pendidikan kita mas. Haha… Menanggapi komentar anda tentang pembentukan satu komunitas anti CONSPIRACY (maaf sedikit saya koreksi, di kamus OXFORD atau WEBSTER atau LONGMAN yang saya miliki tidak ada kata CONSPIRATION, yang ada CONSPIRACY), sepertinya malah jangan karena para konspirator paling takut pada inisiatif pribadi (kindly reread any edition of your PROTOCOLS OF ZION), tapi tidak takut bahkan pada suatu negara sekalipun. Kenapa bisa begini? Ya, karena organisasi sangat gampang disusupi. Begitu mereka menyusup dan mendapati kita didalamnya, u guess what, yah, wassalam.

    Saya pikir akan lebih baik sporadis seperti ini untuk sementara, tapi tetep istiqomah dan dalam koridor Islam yang ngga bias (emang ada ya jaman sekarang kaya gitu, hehe…). Oya, saya memang sudah melemparkan satu ide untuk membikin AN OFFICIAL INFORMATION CENTRE FOR SECRET SOCIETIES AND CONSPIRACIES STUDIES OF INDONESIA pada beberapa contributors blog ini, dan begitu situs itu sudah ada embrionya, silakan anda bergabung.

    “permainan catur pihak putih baru melangkah …sementara pihak hitam udah skak-ster…. inilah indonesia…….. apa kita harus kena skak-mat?????” Saya sangat setuju dengan pendapat anda ini. Kenyataannya memang begitu, tapi insyaAlloh harapan itu masih ada. Berjuang di Indonesia, yang dalam buku BACALAH indeks bacanya sangat rendah ini, memang sangat sulit, tapi pahala yang akan kita dapatkan jika kita istiqomah disini tentunya akan lebih besar daripada, di Australia misalnya.

    Kita akan banyak berurusan dengan para empty-headed commentators, yang termakan kebebasan democrazy yang bahkan tidak pernah diaplikasikan secara konsisten. Demokrasi hanya untuk mereka pemegang kekuasaan, bukan untuk kita para Goyim Proletar ini. Kebebasan berpendapat kita seringkali harus dibayar mahal dengan skak mat untuk nyawa kita.

    “semoga semakin banyak yg berani menguak n melawan system conspiration n the handlers….” Amin, amin, ya robbal ’alamiin…

  4. iyha, betul!

    kalau begini bisa2 orang sejarah yang tidak peduli akan pelan2 teracuni,

    dan tak sadar jadi antek penyebar konspirasi,..

  5. To Maey Moon:

    Thank u very much dek. Tambah semangat ya

  6. sephakat, kita ga’ akan ditanya di akhirat tentang sederet nama ‘pahlawan’ n tempat tanggal waktu peristiwa terjadi; buat apa belajar sejarah kalo bukan untuk menguak n melibas konspirasi jahat y’menjadikan manusia -goyim proletar- sekarat.. some people like to find ideas, some other attempt to destroy, i prefer to find new ideas to destroy.. karena akhirnya kejayaan di tangan kita..

  7. to cahnjowo:

    betul mas, hidup goyim cerdas… Amien…

  8. mas agung aku dapet info (valid nih)
    kalau Nasr Hamid Abu Zayd si sesat itu ada di MAGELANG (kalau ga salah sebulan lalu). dia sepertinya melakukan kaderisasi di salah satu pondok pesantren yang ada SALIB-nya.

    Adian Husaini ampe mencak-mencak lho. prihatin ama umat Islam di Jogja.
    aneh ya… kalu kita masih sempat mikirin democrazy plus demon-strasi buat PEMILU =PEmilihan Mason IlLUminati.
    gimana nih?
    sudah saatnya goyim returns…. kita buat perhitungan sama musuh Islam…….!!!!!! (777X)

  9. Konspirasi itu ada di mana-mana. Di dalam Al-Qur’an, SEABREG contoh nyatanya, dinamakan MAKARl so, TADDABURI Al-Qur’an yang HUKUMnya WAJIB! Lha kepribhen, mampu NGAJI dgn tajwij bener 1oo persen, lha koq jadi Ahl-Bid’ah, lebih parah lagi, jadi individu2 SHIRK!!! Lha itu akibat MALAS TADDABUR yg WAJIB. Lebih lengkap nanti deh di BUKU kami bertiga.

    Pemilihan LURAH wae KONSPIRASI, sogok-menyogok; apalagi PILPRES! Hayo siapa yg diopahin Rp.50M? Mutawatir lho! Di seluruh perkantoran swasta, bumn, Kamarentah, ee, pemerintah sipil dan non-sipil, terjadi juga KONSPIRASI ABADI! Lha itu, SENIOR dan Atasan yg gemar MENGHAMBAT karier anakbuah atau yuniornya???

    Lha yang belum pernah keceblung, eee, terjerumus ke dalam KUBANGAN virokrasi, ya ndak mudeng apa itu konspirasi alias PERSEKONGOLAN jahat…Nah Loe, ada AYATnya tuh. Gini intinya: “….bersatu-padulah dalam BERBUAT kebaikan, bukan KEBATHILAN,,? Ingat to? Maka, buanyak banget di negeri ini JAMA’AH sesat-menyesatkan ahlul-bid’ah lagi nan SHIRK!!! Ngakunya MAYORITAS di negeri memelas ini, padahal ALLAH SWT mengingatkan, kira2 begini: ?….jangan percayai kata kata orang KEBANYAKAN (alias MAOYORITAS) sebab mereka itu gak bener….? Tengok Wur’an kita masing2 jika gak percaya. Maka Cing, Cak, bertaddaburlah jangan cuma NGAJI tanpa mengerti maknanya! Nyangkut di TENGGORAKAN doang, sabda Rasulullah SAW tentang tentangga si Fulan 1 ketika sedang kongkow2 dgn Sang Rasul SAW dgn Fulan2,3,4, dan tentangga sebelah si Fulan 5 sedang NGAJI dgn tajwij semurana dan dialem alias dipuji si Fulan 1. “Gak nyampe ke QOLBUnya,” ujar Sang Nabi BEsar saw.

    Parting Shot alias sebelum kututup, BERSIHKAN JIWA/QOLBU kita masing2 jika berani mendaku Orang Beriman. Lha jika Shalat WAJIB lima waktu saja kagak bener, jangan harap dapat SMS terus dari Allah SWT. Murah meriah lagi….

    Sampai jumpa. Yang berbahasa Inggrisnya rata2 8, apalagi 9 sejak di sltp s/d kuliah, monggo tengok ObrolanNet saya berbahasa itu di 3w.scribd.com dan SEARCH Joe Jussac, Jr. atau tjoaginsing….. pake Google juga bisa koq. PEASE man, ee lupa, juga ladies. Salaam

  10. Eeealah, lha nulis PEASE koq ya peke S. Pilek ntar ya? Salah ketik lha wong gak tidur selam. PEACE yg bener. Juga ada typos lain2nya maklumlah sudah senja tinggal dikafani, jika gak disapu Tusnami atau ditelan bumi murka…..

  11. Konsprasi? Hmmm…jadi ingat sama Nabi Yusuf yang didzolimi sama saudara2nya dengan jalan diceburkan kedalam sumur. Sebenarnya di dalam Al Quran kita banyak mendapatkan penjelasannya. Mungkin diterjemahkannya sebagai ‘makar’ kali ya? Ada satu contoh lagi, suratnya saya lupa dimana para pembesar-pembesar musyrikin berkonspirasi pada suatu malam untuk membunuh Nabi Muhammad SAW, tetapi atas kuasa Allah, beliau SAW selamat dari upaya pembunuhan tersebut.
    Anyway, saya sepakat dengan Mas Agung untuk mengganti atau setidaknya menambahkan apa yang diistilahkan sebagai Conspiratorial View kedalam kurikulum Ilmu Sejarah (yang dalam Al Quran sejarah juga disinggung, istilahnya Al-Syajarotun yang artinya pohon -cmiiw- ), kemudian mengenai mana yang akan diyakini diserahkan kepada para pelajar.
    Salam.

  12. Ummat Islam dan Teori Konspirasi

    Oleh : Abi Waskito 27 11 08

    Sebuah buku berjudul, Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, ditulis oleh Dhurorudin Mashad, terbitan Pustaka Al Kautsar, cetakan Juni 2008. Buku ini diberi kata pengatar oleh Eep Saefulloh Fatah, pakar politik UI. Pustaka Al Kautsar termasuk sering menerbitkan buku-buku yang bertema politik Islam. Buku ini melengkapi wacana yang telah diterbitkan sejak lama. Dalam buku karya peneliti LIPI ini banyak wawasan-wawasan informasi yang bisa dijadikan alat untuk memahami peta politik Islam di Indonesia, sejak dulu sampai saat ini. Namun kali ini saya tidak bermaksud membahas buku Dhurorudin Mashad di atas. Cukuplah pembaca mengkajinya secara mandiri. Disini saya lebih tertarik membahas salah satu materi kata pengantar Eep Saefulloh Fatah, ketika dia menjelaskan sumber-sumber kemunduran kehidupan Ummat Islam di Indonesia. Menurut Eep, secara statistik jumlah Muslim Indonesia sangat banyak, tetapi secara realitas peranan Ummat Islam marginal.

    Dia berusaha mencari jawaban atas masalah ini. Salah satunya, menurut Eep, biang kerok kemunduran Ummat Islam, karena kita terlalu banyak terbelit oleh TEORI KONSPIRASI.

    Dalam buku itu Eep mengatakan:
    “Salah satu cara menjawab yang seringkali diajukan oleh kalangan Islam adalah menemukan sumber-sumber di luar sebagai penyebab, biang kerok, kekalahan atau kegagalan politik mereka (Ummat Islam, pen.). Salah satu cara sangat populer dalam kerangka ini adalah mengajukan teori konspirasi: menunjuk kalangan-kalangan di luar Islam yang dipersepsikan sebagai komplotan yang memang terus-menerus menjaga agenda mereka untuk memarjinalisasikan kalangan Islam.

    Goenawan Mohamad menyebut teori konspirasi sebagai “teori orang malas”. Saya tidak bisa tidak bersetuju. Bahkan menurut hemat saya, bukan sekedar itu. Teori konspirasi, bukan alat penjelasan orang-orang yang malas, tetapi juga “teori para pecundang”. Seorang pecundang membiasakan telunjuknya mengarah ke luar dirinya, seolah mengharamkan introspeksi. Seorang pemenang, sebaliknya, senantiasa ikhlas melihat pertama-tama ke dalam dirinya. Introspeksi.

    Menuding penyebab di luar sebagai sebab utama atau semata-mata adalah salah satu cara yang kontra-produktif untuk memahami kegagalan dan kekalahan politik kalangan Islam. Karena itu, cara semacam itu selayaknya ditinggalkan. Selayaknya kalangan Islam memulai usaha pencarian jawaban atas pertanyaan itu dengan melihat ke dalam, ke dalam diri sendiri, melakukan introspeksi secara ikhlas, dan menemukan kekeliruan atau kesalahan pertama dan terutama dari sana.” (Akar Konflik Politik Islam di Indonesia, Dhurorudin Mashad, halaman xii).

    Eep Saefulloh Fatah beberapa tahun lalu mengambil studi doktoral di Amerika. Kini mulai aktif kembali dalam kancah pemikiran politik di Indonesia. Dia seorang demokrat sejati dengan segudang optimisme tentang kehidupan rakyat yang adil, makmur, sentosa, aman, damai, bersatu, bermartabat, terhormat, mulia, berdaya, harmonis,…: melalui proses demokrasi! Pada sebagian orang, demokrasi telah menjadi nilai-nilai yang mengendap ke dasar keyakinan di hati. [Padahal dalam Islam, politik saja posisinya hanya sekedar wasilah (sarana), bukan prinsip fundamental. Apa lagi demokrasi?].

    Saya masih ingat dialog Eep Saefulloh Fatah dengan HS. Dillon di sebuah stasiun TV. Setelah 10 tahun Reformasi, kondisi masyarakat malah acur mumur (hancur berantakan). HS. Dillon berkali-kali menanyakan ke Eep tentang ongkos besar di balik praktik politik selama ini. Tetapi Eep keukeuh dengan keyakinannya, bahwa demokrasi adalah jalan terbaik bagi bangsa Indonesia. Menyikapi situasi penderitaan masyarakat di era Reformasi, Eep begitu pintarnya mencari black sheep (baca: kambing hitam) dengan menyebut konstruksi kepemimpinan politik saat ini yang dianggapnya belum demokratis. Contoh, pada Pemilu 1999 PDIP memperoleh suara terbanyak, tetapi malah Gus Dur yang menjadi presiden. Atau Pemilu 2004, yang jadi presiden malah SBY dari Partai Demokrat.

    Pendek kata, dalam pandangan Eep, Indonesia belum mencerminkan kondisi negara yang demokratis. Lalu apa komentar dia ketika menyaksikan kondisi keterpurukan Amerika saat ini? Bukankah disana adalah syurganya demokrasi? Entah, nanti “black sheep” siapa lagi yang akan dibawa-bawa…

    Pentingnya Introspeksi
    Pemikiran Eep Saefulloh yang layak dihargai, bahwa Ummat Islam perlu introspeksi diri. Lihatlah ke dalam, lihat berbagai kekurangan dan kelemahan diri. Ya, benar adanya. Introspeksi diri sangat penting. Dalam Islam ia dikenal dengan istilah muhasabah (menghitung-hitung kekurangan diri). Setiap manusia berakal pasti membutuhkan muhasabah atau evaluasi diri. Khalifah Umar Ra. mengatakan, “Hisablah diri kalian, sebelum kelak kalian akan dihisab (oleh Allah).” Benar, kita setuju sepenuhnya. Ummat Islam, baik sedang terpuruk atau berjaya, sedang dominan atau marginal, sedang di atas atau di bawah, saat sendiri atau berjamaah; kita semua butuh introspeksi diri, evaluasi diri, terus bermuhasabah.

    Kalau mau jujur, kemauan untuk muhasabah bagi setiap orang, merupakan tanda bahwa yang bersangkutan berpeluang untuk maju. Siapapun yang anti muhasabah, merasa cukup dengan kemampuan dan ilmunya, merasa telah sempurna, dengan enggan melihat kesalahan-kesalahan diri; mereka akan kalah atau dikalahkan.

    Kebangkitan bangsa Jerman setelah Perang Dunia I, hal itu muncul ketika mereka bersedia mengkoreksi kesalahan-kesalahannya, lalu melakukan konsolidasi internal. Sebaliknya, kegagalan Jerman dalam PD II itu justru terjadi ketika mereka memaksakan diri ingin mengalahkan Rusia. Jerman tidak menghitung kondisi internalnya dan tantangan eksternal yang akan dihadapi. [Jerman menyerang Rusia saat negeri itu menjelang musim dingin. Tentu saja, Rusia sangat “welcome” menyambut pasukan Nazi Jerman, untuk dikubur di bawah tumpukan salju].

    Kondisi yang sama juga dialami Jepang. Gerakan Restorasi Meiji mencerminkan komitmen tinggi Jepang untuk melakukan perbaikan internal. Namun ketika Jepang memaksakan diri mendukung Jerman dan Itali dalam PD II, tanpa menghitung sejauhmana tantangan eksternal yang dihadapi, mereka pun dikalahkan. Akibat kekalahan itu, sampai hari ini Jepang masih harus meminta maaf atas kekejaman-kekejaman pasukannya di masa lalu kepada China, Korea, Indonesia, dan lainnya. Ketika suatu bangsa melakukan introspeksi, mereka bangkit; namun saat mereka arogan dan meninggalkan introspeksi, mereka pun dikalahkan. Situasi yang sama juga dihadapi Napoleon Bonaparte di Perancis.

    Adalah nonsense bicara soal kebangkitan, tanpa introspeksi diri. Bahkan Al Qur’an memberikan landasan filosofis yang amat fundamental. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah (keadaan) suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.” (Ar Ra’du: 11).

    Ketika Rasulullah Saw. memimpin kaum Muslimin dalam Perang Hunain, banyak orang merasa arogan dengan jumlah pasukan yang banyak. Mereka merasa akan mudah mengalahkan suku-suku pedalaman Arab yang masih musyrik. Ternyata, jumlah yang banyak itu tidak berdaya menghadapi serangan-serangan kaum musyrikin. Pasukan kaum Muslimin kocar-kacir. Banyak yang melarikan diri dari medan pertempuran, sebelum diijinkan oleh Nabi Saw. Barulah ketika Nabi melakukan konsolidasi, memanggil Shahabat-shahabat terbaiknya dari kalangan Anshar dan Muhajirin, setelah itu perlahan-lahan kaum Muslimin bisa memukul mundur suku-suku pedalaman Arab, sampai mereka benar-benar dikalahkan dengan kerugian harta-benda sangat besar. (Lihat Surat At Taubah: 25-27).

    Hampir bisa dipastikan, tidak akan ada kebangkitan, tanpa introspeksi diri. Bahkan dalam manajemen-manajemen modern, istilah evaluasi program sudah menjadi makanan sehari-hari. Mereka juga mengenal istilah analisa SWOT. Siapapun yang mau maju, pasti butuh evaluasi diri.

    Tetapi saat kita menyadari pentingnya introspeksi diri, tidak berarti harus membuang teori konspirasi, atau menuduh teori itu sebagai buang-buang waktu, atau sejenis “kerjaan orang bodoh”. Tidak sama sekali. Pemahaman terhadap teori konspirasi tetap dibutuhkan oleh Ummat ini, bahkan sangat penting. Tidak mungkin sukses perjuangan suatu kaum, jika mereka buta terhadap konspirasi musuh-musuhnya. Rasulullah Saw. memerintahkan sebagian Shahabat melakukan kegiatan mata-mata atau pengintaian, karena ingin mengetahui konspirasi-konspirasi musuhnya? Sampai beliau mengatakan, “Al harbu khud’ah” (perang itu adalah tipu daya).

    Pandangan Islam
    Sebenarnya, ajaran Islam sangat memperhatikan posisi teori konspirasi –jika boleh disebut demikian-. Bahkan tema konspirasi (makar) sangat kuat dalam ajaran dan sejarah Islam. Minimal, kita diingatkan bahwa iblis dan bala tentaranya tidak kenal lelah melakukan konspirasi untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Begitu pula, orang-orang kafir selalu berkonspirasi untuk memurtadkan kaum Muslimin. Dalam Al Qur’an, “Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian, sampai mereka berhasil membuat kalian murtad dari agama kalian, seandainya mereka mampu (melakukan hal itu).” (Al Baqarah: 217).

    Konspirasi dalam Al Qur’an disebut dengan istilah al makar atau al kaidu. Ayat-ayat tentang hal ini sangat banyak. Di antaranya yang sangat populer ialah: “Mereka membuat makar, dan Allah pun membuat makar. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pembuat makar (balasan).” (Ali Imran: 54). Dan ada pula ayat berikut: “Dan sungguh mereka telah membuat makar (yang besar), padahal di sisi Allah (balasan) makar mereka itu. Dan sungguh makar mereka itu dapat melenyapkan gunung (karena saking kejinya).” (Ibrahim: 46).

    Dalam kisah para Nabi dan Rasul banyak disebutkan tentang makar-makar. Rata-rata musuh para Rasul membuat makar untuk menentang Kenabian. Minimal makar dengan kampanye menjelek-jelekkan dakwah Rasul. Saudara-saudara Yusuf As pernah membuat makar dengan memasukkan Yusuf ke dalam sumur, lalu mereka mengarang cerita dusta tentang “Yusuf dimakan srigala”. Fir’aun juga membuat makar untuk menghalangi dakwah Musa As. Samiri membuat makar “anak sapi” untuk menyesatkan Bani Israil. Romawi membuat makar untuk memberantas dakwah Zakariya, Yahya, dan Isa As. Adapun makar di jaman Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam banyak sekali. Makar itu terutama dari kalangan musyrikin Makkah, Yahudi Madinah, dan kaum munafik Madinah.

    Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam berkali-kali hendak dibunuh. Pertemuan di Darun Nadwah Makkah merekomendasikan agar Nabi dibunuh secara bersama-sama oleh pemuda musyrikin. Sewaktu Nabi menempuh hijrah ke Madinah, beliau disayembarakan untuk dibunuh. Ketika di Madinah, Nabi hendak dibunuh oleh orang Yahudi dengan rencana dilempar penggilingan gandum dari atap rumah. Beliau pernah diracun oleh seorang wanita Yahudi melalui daging yang dihadiahkan kepadanya. Beliau juga pernah disihir oleh dukun Yahudi. Kaum Muslimin mengalami makar berkali-kali dari Abdullah bin Ubay dan kawan-kawan. Begitu pula Yahudi membuat makar besar dengan menjadi sponsor utama pasukan al ahzab (semacam Sekutu multi nasional).

    Sejarah Islam menceritakan banyak fakta-fakta tentang makar. Khalifah Abu Bakar Ra. diganggu oleh Nabi palsu dan kaum murtadin (menolak membayar zakat). Khalifah Umar Ra. terbunuh karena konspirasi, begitu pula Khalifah Utsman Ra. dan Khalifah Ali Ra. Munculnya Khawarij dan Syi’ah juga bagian dari proses makar (konspirasi). Begitu pula Perang Salib melawan pasukan Nashrani Eropa, kehancuran Andalusia di Spanyol, penjajahan bangsa Eropa di Dunia Islam (Asia-Afrika), hancurnya Khilafah Islamiyyah Utsmaniyyah, munculnya negara-negara atas dasar nasionalisme, serta berdirinya Israel di Palestina, semua itu berbicara lugas tentang fakta besar: M A K A R !!!

    Hingga pernah diceritakan, ketika Israel berhasil merebut Palestina, salah satu perwira pendukung Israel datang ke makam Shalahuddin Al Ayyubi rahimahullah. Disana dia mengejek Shalahuddin. Dia mengatakan, bahwa kemenangan Israel itu merupakan pembalasan atas kekalahan Barat dalam perang Salib. Jangan jauh-jauh, George Bush saja ketika menyerukan war against terrorism, dia mengklaim bahwa perangnya merupakan kelanjutan dari Crusade.

    Jadi adalah sangat lucu kalau kita mengabaikan fakta konspirasi. Secara tekstual, ajaran Islam berbicara tentang hal itu. Dalam sejarah para Rasul As, sejarah Nabi Saw. dan Khulafaur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum hal itu nyata terjadi. Begitu pula dalam sejarah Islam sejak awal sampai Turki Utsmani, bahkan sampai hari ini, makar terus diproduksi untuk merobohkan Islam.

    Entah kita akan disebut Ummat sedungu apa, kalau mengingkari fakta konspirasi ini? Dan entah bagaimana lagi hendak menjelaskan, jika dalil-dalil segunung itu ditolak dengan alasan “teori orang malas”, bahkan “teori para pecundang”? Jangan-jangan orang yang mengatakannya sudah tidak beriman lagi? Na’udzubillah min dzalik. [Kalau Goenawan Mohamad memang kafir dan anti Islam. Tahun 2006, dia mendapat penghargaan Dan David Prize di Tel Aviv Israel. Hal itu disebutkan dalam buku Fakta dan Data Yahudi di Indonesia, oleh Rizki Ridyasmara].

    Sejarah di Indonesia
    Di Indonesia pun kita menjumpai banyak fakta konspirasi. Bukan lagi teori, tetapi fakta. Penjajahan VOC dan Belanda, Portugis, Inggris, Spanyol, dan Jepang di Indonesia adalah fakta tentang konspirasi. Ya, penjajahan itu bisa dibilang “mbah-nya” konspirasi. Lama sekali masa yang dijalani bangsa ini dalam penjajahan, sejak tahun 1600-an sampai 1945.

    Politik devide et impera yang diterapkan Belanda (VOC) adalah konspirasi. Penipuan terhadap para pahlawan seperti Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Syaikh Yusuf, dll. dengan kedok perundingan damai, lalu yang bersangkutan ditangkap adalah konspirasi. Keterlibatan Snouck Hurgronje yang mengaku ulama dari Makkah, lalu meracuni pikiran rakyat Aceh, adalah konspirasi. Bahkan upaya mencuci otak anak-anak terbaik Indonesia dengan sistem pendidikan sekuler Belanda, melalui Politik Etik Douwes Decker, adalah konspirasi. Perundingan-perundingan dengan Belanda seperti Linggarjati, Renville, KMB, yang isinya selalu merugikan Indonesia, adalah konspirasi.

    Bahkan konspirasi itu juga dilakukan sendiri oleh elit politik Indonesia sendiri. Soekarno sewaktu menyusun Pancasila, setuju dengan konsep “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Namun tanggal 18 Agustus 1945 saat pengesahan UUD 1945 dia mengingkari janjinya. Teks proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno dengan coret-coretan juga konspirasi. Kebohongan Soekarno kepada rakyat Aceh tentang penerapan Syariat Islam, juga konspirasi. Sikap lunak Soekarno kepada PKI, meskipun telah memberontak di Madiun, adalah konspirasi. Sikap keras Soekarno kepada Masyumi dan tokoh-tokoh yang terlibat PRRI, adalah konspirasi. Dan lain-lain sangat banyak.

    Kalau kita membaca sejarah Indonesia, sebagian besar adalah sejarah konspirasi. Ia merupakan sejarah yang berpihak kepada kaum sekuler dan anti Islam. Salah satu contoh, tentang Boedi Oetomo (BO). Kelahiran BO menjadi tonggak Kebangkitan Nasional. Padahal banyak orang tahu, BO itu organisasi etnik yang bersifat elitis, dan sangat kompromi dengan kepentingan Belanda. Bahasa pengantarnya saja Belanda. Tidak pernah terdengar BO melancarkan perang anti penjajahan. Sementara Syarikat Islam (SI) yang sangat pro kemerdekaan dan anti penjajahan, tidak pernah dihargai sebagaimana mestinya. Begitu pula, isi Sumpah Pemuda sangat mirip dengan slogan yang dikenal di kalangan Freemasonry. Melodi lagu Indonesia Raya pun tidak murni gubahan WR. Soepratman, tetapi dimodifikasi dari lagu-lagu klasik.

    Banyak sekali fakta-fakta konspirasi yang kita dapati, sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, sampai saat ini. Peristiwa Woyla, Tanjung Priok, Talangsari, Kupang, Ambon, Maluku Utara, Poso, dll. pekat beraroma konspirasi. Kerusuhan Mei 1998 pun tidak murni karena demo mahasiswa. Ada tangan-tangan kuat yang bermain di baliknya. Terutama IMF, USAID, media-media TV, dan LSM-LSM pro asing di Indonesia. Pemerintah Abdurrahman Wahid sarat dengan misi konspirasi. Hingga Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002, khususnya bom yang meledak di Sari Club, sampai saat ini masih menyisakan banyak misteri.

    Banyak sekali fakta tersebut. Disana ada peristiwa-peristiwa besar yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia, tetapi tidak bisa dicarikan jawabannya dengan berita-berita umum yang beredar di media massa. Contoh, kerusuhan Ambon 19 Januari 1999. Korban yang meninggal sangat banyak, hingga mayat-mayat yang membusuk di pantai. Kota Ambon sendiri rasanya hancur total. Di pemukiman Muslim, masih tersisa satu bangunan Masjid Al Fatah. Trauma pasca kerusuhan ini tidak akan hilang sampai beberapa generasi ke depan. Pertanyaannya, mungkinkah kerusuhan besar itu terjadi hanya karena pertengkaran sopir angkot di terminal Mahardika? Lihatlah antara akibat yang timbul dan penyebabnya terdapat jurang kesenjangan yang amat jauh. Sangat dungu orang yang mengabaikan fakta konspirasi dalam kasus ini.

    Konspirasi Kelas Dunia
    Di dunia internasional sendiri sangat banyak konspirasi. Sebagian konspirasi itu akhirnya terbongkar, sebagian lain masih misterius. Dan negara yang sangat banyak “memproduksi” konspirasi adalah Amerika. CIA sendiri adalah dinas intelijen yang paling sibuk ngurusi negara lain. Keringat agen-agen CIA bisa tercium di setiap meja pemerintahan-pemerintahan di dunia; bau mulut agen-agen CIA masih menempel di kabel-kabel saluran telepon khusus.

    Harus dicatat bahwa berbagai konspirasi itu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia di dunia. Sebagiannya adalah sebagai berikut:
    1. Penetapan hak veto bagi 5 negara besar di PBB. Ummat Islam yang jumlahnya sekitar 1 miliar di dunia tidak mendapat 1 pun hak veto. Sementara Inggris dan Perancis yang kecil memperolehnya.
    2. Perang dingin Amerika-Uni Soviet adalah medan perang konspirasi luar biasa. Hingga Hollywood pun dilibatkan dalam perang itu.
    3. Pendaratan Niel Amstrong Cs. ke bulan adalah misteri besar. Seandainya Amerika telah mampu kesana, mengapa hal itu tidak mampu lagi diulang di jaman modern ini? Bukankah perkembangan teknologi semakin canggih? Bahkan meledaknya dua pesawat ulang-alik Amerika, Columbia dan Challenger, adalah fakta yang tidak terbantah bahwa menembus angkasa sangat sulit.
    4. Penerimaan teori Evolusi Darwin sebagai bagian dari sains modern adalah konspirasi luar biasa. Bukan hanya karena teori itu tidak pernah mampu dibuktikan secara empirik di laboratorium; tetapi juga karena berbagai teror dialamatkan kepada ilmuwan-ilmuwan yang menolak teori itu.
    5. Penggulingan penguasa-penguasa politik di Dunia Ketiga banyak dibidani oleh CIA, baik di Asia maupun Afrika. Contoh, jatuhnya Soekarno, Reza Pahlevi, Pol Pot, Farah Aidit, dll.
    6. Skandal Iran Kontra. Skandal ini sangat mempermalukan Amerika di dunia internasional. Dalam opini dunia, Amerika sangat bermusuhan dengan Iran. Tetapi di bawah permukaan, mereka kerjasama dengan Iran dalam soal minyak. Lalu hasilnya dimanfaatkan untuk membeli senjata dalam rangka mendukung gerilyawan Kontra di Nikaragua.
    7. Kebijakan Glasnost dan Perestroika Michael Gorbachev adalah bentuk konspirasi, sehingga Komunis Uni Soviet bubar. Kebijakan Gorbachev itu hanya untuk mengalihkan perhatian dunia dari kekalahan Uni Soviet di medan perang Afghanistan.
    8. Perang Teluk I 1990-1991 adalah bentuk konspirasi. Saddam Husein pernah mengaku, bahwa sebelum penyerangan Irak ke Kuwait, duta besar Inggris dan Perancis terus memprovokasi Irak agar menyerang Kuwait. Tetapi setelah serangan dilakukan, Saddam Husein malah diadili dunia di bawah komando Amerika. Ini adalah kebusukan luar biasa. Saddam dan Irak dijebak dalam skenario mematikan. Di atas kertas mereka salah, padahal provokator serangan ke Kuwait adalah Inggris dan Perancis.
    9. Krisis moneter regional di kawasan Asia tahun 1997 adalah hasil konspirasi antara lembaga-lembaga keuangan dunia, bandar mata uang asing (seperti George Soros), dan para konglomerat penghutang (debitor).
    10. Tragedi WTC 11 September 2001 adalah konspirasi terbesar awal abad 21. Banyak peneliti yang membahas masalah ini.
    11. Penggulingan Pemerintahan Thaliban setelah Tragedi WTC adalah konspirasi. Masalah utamanya, Thaliban tidak mau tunduk dalam aturan Amerika soal pasokan energi dari Asia Tengah.
    12. Serangan Sekutu ke Irak 2003 atas nama “senjata pemusnah massal” adalah konspirasi luar biasa. Ia malah bisa disebut sebagai kejahatan perang. Sebab menurut inspeksi PBB, instalasi informasi senjata pemusnah massal di Irak adalah bohong belaka. Bahkan eksekusi mati terhadap Sadam adalah tindakan kejahatan internasional yang tidak termaafkan. Serangan ke Irak itu sendiri tidak sah, apalagi penggulingan kekuasaan, dan eksekusi terhadap pemimpin sebuah negara berdaulat.
    13. Penjara-penjara Amerika untuk tertuduh terorisme seperti Guantanamo, Abu Ghraib, Begram, Kandahar, dll. adalah bentuk konspirasi juga. Dan banyak contoh-contoh lain.
    Tanda bahwa semua itu konspirasi sangat sederhana. Satu, semua itu memberi dampak luar biasa dalam kehidupan manusia. Dua, opini yang berkembang di tengah masyarakat tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental seputar kasus-kasus di atas. Misalnya, klaim bahwa Usamah bin Ladin dan jaringan Al Qa’idah merupakan pelaku peledakan WTC. Klaim ini tidak mampu dibuktikan. Usamah dan lain-lain tidak mampu menjelaskan bagaimana detail kronologi peledakan WTC itu. Usamah bisa menjadi instruktur militer tercanggih di dunia jika benar-benar mampu menjelaskannya. Tidak ada satu pun satuan militer di dunia berani mengklaim bisa merancang aksi seperti itu. Bahkan benarkah peledakan pesawat bisa menghancurkan gedung semegah WTC hanya dalam hitungan beberapa menit?

    Kalau kita tidak percaya dengan teori konspirasi, berarti kecerdasan kita sangat memprihatinkan. Kita tidak pernah berpikir secara logis, tetapi selalu mempercayai bahwa segala sesuatu terjadi secara kebetulan. Ini sangat mengerikan!

    Bukan Pemikiran Pecundang
    Goenawan Mohamad mengklaim bahwa teori konspirasi adalah “teori orang malas”. Eep Saefulloh Fatah menambahkan lebih tajam, “teori para pecundang”. Ungkapan-ungkapan seperti ini menurut saya justru keliru. Orang-orang yang mempercayai teori konspirasi adalah mereka yang memiliki intelijensi lebih tinggi. Mereka tidak menerima begitu saja setiap informasi yang dipublikasikan. Mereka memikirkan kemungkinan terbalik dari apa yang tampak di permukaan.

    Dalam dunia intelijen, teori konspirasi menjadi madzhab utama. Anggota intelijen dibiasakan memikirkan segala sesuatu secara terbalik. Semua itu membutuhkan kekuatan berpikir yang tinggi. Tidak berlebihan jika dinas tersebut disebut intelligence; kumpulan orang-orang pintar.

    Dari sisi lain, di dunia sangat banyak gerakan-gerakan politik yang bekerja secara konspiratif (gerakan bawah tanah). Hampir di setiap negara ada gerakan seperti itu, termasuk di Indonesia. Di antara mereka benar-benar murni gerakan bawah tanah, tidak pernah mengekspose diri ke permukaan. Contoh gerakan-gerakan yang bekerja secara rahasia: Macan Tamil Elam di Srilangka, MILF di Filipina, ANC di Afrika Selatan (dulu), IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, Quebec di Kanada, Jihad Islam di Palestina, Al Qa’idah di Irak, Hizbullah di Libanon, dll. Semua pengamat mengerti tentang realitas ini. Bahkan mencermati perkembangan politik tanpa memikirkan elemen-elemen seperti itu adalah nonsense. Kalangan Yahudi termasuk yang memiliki gerakan-gerakan under ground sangat militan. Termasuk organisasi mantel Yahudi seperti Freemasonry, Illuminati, Ksatria Templar, Rotary Club, Lions Club, dll. Begitu juga dalam bidang kriminalitas ada Mafia Sicilia, Mafia Rusia, Mafia China (Triad), Mafia Kolumbia, dll. Mereka bekerja saat orang lain tertidur, dan mereka tidur saat orang lain bekerja. Begitulah logikanya.

    Dalam politik juga begitu. Teori konspirasi banyak dipakai untuk membuat analisis politik. Medan politik adalah medan perang kepentingan; namun perang ini tidak memakai senjata dan amunisi. Ia adalah perang manuver-manuver politik untuk memperoleh akses politik sebesar-besarnya. Siapapun yang membuat manuver politik hanya berdasarkan kenyataan-kenyataan terbuka yang tampak di atas permukaan, dia akan gagal. Politik yang bekerja sesuai opini umum adalah politik orang awam, bukan politik cerdas yang efektif.

    Singkat kata, teori konspirasi bukan “teori orang malas” atau “teori para pecundang”. Ia adalah teori yang menunjukkan level berpikir lebih tinggi dari standar orang biasa. Orang malas tidak akan sampai ke pemahaman teori konspirasi, apalagi para pecundang. Ungkapan Eep Saefulloh Fatah di atas adalah salah secara komprehensif. Ia lebih tampak seperti retorika tanpa arti.

    Metode Sederhana
    Secara umum, hakikat konspirasi itu nyata. Dengan berbagai cara Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang bahaya konspirasi. “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka jadikan ia musuh kalian. Sesungguhnya syaitan itu menyeru bala tentaranya untuk menjadi penghuni neraka sa’ir.” (Faathir: 6). Menolak konspirasi akan membawa kita mengkufuri ajaran Islam. [Meskipun tentu saja, ajaran Islam tidak hanya bicara soal konspirasi].

    Dalam menyikapi sesama Muslim, kita tidak boleh memakai kerangka teori konspirasi. Ia hanya digunakan untuk menyikapi berbagai golongan anti Islam, apapun bentuk dan eksistensinya. Terhadap sesama Muslim yang dikenal baik komitmen kepada agamanya, berlaku prinsip husnuzhan (baik sangka). Kepada non Muslim, sekularis, kalangan anti Islam, aliran sesat, dan orang-orang yang sudah terkenal kejahatannya, sudah sewajarnya kita su’uzhan. Su’uzhan dalam kondisi seperti itu tidak merugikan. Jika kita benar, maka kita terselamatkan dari bahaya mereka; jika kita salah, setidaknya sudah melakukan ikhtiar kewaspadaan. Seorang Muslim wajib waspada kepada semua elemen-elemen musuhnya.

    Bagaimana kalau ada yang menyebut usaha kewaspadaan sebagai perbuatan “orang malas” atau “para pecundang”? Jawabnya sederhana: Orang yang mengatakan itu tidak mengerti ajaran Islam! Bahkan dia termasuk manusia polos yang percaya begitu saja setiap informasi yang bertebaran di masyarakat. Dan yang lebih memprihatinkan, logika berpikirnya tidak berjalan lancar. Betapa banyak kenyataan-kenyataan besar yang tak mampu dicarikan jawabannya melalui opini umum. Apakah semua itu terjadi karena kebetulan? [Jawaban Anda atas pertanyaan ini akan mencerminkan posisi keilmuwan dan wawasan Anda!].

    Agar kita selalu mendapat petunjuk Allah Ta’ala dalam menyikapi berbagai realitas, hendaknya selalu taat kepada-Nya. “Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, maka Dia akan mengadakan bagimu furqan (pembeda antara al haq dan al bathil).” (Al Anfaal: 29).

    Sebagai catatan terakhir, pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir, Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah, beliau menjadikan materi ghazwul fikri (perang pemikiran) sebagai salah satu materi penting tarbiyah dakwahnya. Sebagaimana namanya, ghazwul fikri berarti kancah perang pemikiran. Sampai ada satu hikmah besar: “Bahwa kenyataan hidup yang dihadapi Ummat Islam kerap kali mengikuti jadwal konspirasi yang diterapkan atas mereka.” Wallahu a’lam bisshawaab.

    [AM. Waskito].

    http://swaramuslim.com/posting/more.php?id=6079_0_19_0_M

  13. sial, pas belajar jurnalistik smester kemaren yg jadi contoh di materi2nya tuh antek2 zionis kaya Goenawan M dkk…
    udah gitu dosennya kuffar sekuler lagi…
    sempet ngeremehin jihad pula tuh dosen,
    untung gwa gak “hanyut” sama omongan2 sampahnya pas dia lagi ngajar…

    To Nestor (dosen gwa): you’re dumb ass, sir…

  14. Dilihat dari kasus kemarin–bom marriot & ritz charlton- -sebenarnya sudah jelas siapa yang paranoid. Siapa lagi kalo bukan masyarakat yang terbuai dengan berita media massa yang hanya menyajikan analisis yang berputar di situ-situ saja (hal-hal lain seperti kejanggalan dari tragedi pemboman tidak dianalisis dan dipublikasikan sama sekali).

    Jadi kesimpulannya orang-orang seperti penulis blog ini dan masyarakat (yang memiliki sudut pandang konspirasi) BUKAN paranoid, sebaliknya masyarakat awam/latah lah yang paranoid karena pemberitaan media massa mainstream.

    “now everybody do the propaganda…and sing along in the age of paranoia”
    arrrghhh jadi teringat lagu Greenday
    “Don’t wannabe an Indonesian Idiot…”

  15. wuiiih keren, sekarang umat Islam Idonesia dan dunia bisa dikambing-hitamkan atas nama errorisme, ra-dick-alisme, liberalisme. ini menyenangkan, semua useful-idiots akan bersilat lidah melalui pelacur media dan pengamat-pengamat sewaan untuk merusak citra umat Islam. sementara tidak satupun akan memperhatikan final countdown NWO.

    Islam musuh terbesar NWO, jadi sudah sewajarnya umat Islam dipecah melalui syah, aliran sesat dadakan, julukan fundamentalis, ra-dick-alisme, diseret ke dalam liberalisme, sekulerisme, pluralisme, demitsime serta dituduh wahabisme (emang ada ya aliran wahabi…? tanya aja bos-bos mossad). jangan lupa komunisme lho…

    ntar kalau rencana NWO jalan dan berhasil, pelacur-pelacur uang itu kita habisi dalam satu kesempatan. mereka hanya “toys” dan sampah. indah sekali dunia ini tanpa useful dan useless idiots, ya gak (gaak…)

    buat pemilik blog, mas kok sekarang ada modulasi minta email aseli…? (sepertinya blog anda sudah diambil-alih pihak ke tiga ya. hati-hati ya mas)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: